“Growing in Harmony” dibalik makna memperingati Hari AIDS sedunia

Skalacomm
20 September 2018

Hari AIDS Sedunia selalu diperingati setiap tahunnya oleh masyarakat indonesia, namun sudahkah peringatan ini membawa perubahan bagi kita?

Menjadi penonton tidak akan melahirkan perubahan atau perbaikan apapun. Jadilah bagian dari perubahan yang akan menghasilkan perbaikan bagi kehidupan orang banyak.

Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk program AIDS global organisasi kesehatan sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann,direktur program AIDS Global kin idikenal sebagai UNAIDS. Dr. Mann menyukai konsepnya,menyetujuinya,dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.

Pengertian HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus‘. HIV adalah suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh,sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan kekurangan sistem imun. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome/Acquired Immune Deficiency Syndrome‘ yang menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah di habiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

Kekuatan mental menghadapi Globalisasi, terbuka dan mudahnya akses informasi yang masuk ke Indonesia yang pada akhirnya mempengaruhi budaya kita, merupakan salah satu kekuatan yang bisa mencegah pertumbuhan angka ODHA di Indonesia. Me-revolusi mental yang dicanangkan sangat diperlukan. Sehingga peringatan Hari AIDS Sedunia ini tidak hanya menjadi sebuah serimonial, tetapi juga berimbas pada penurunan jumlah ODHA di Indonesia.

Pengertian, penyebab, dan akibat mengenai penyakit AIDS sudah banyak diketahui dan dipelajari dari semua sudut pandang baik kesehatan hingga sosial. Namun hal besar yang belum disadari adalah mencegah lebih penting dari semua tahapan pengobatan. Cara kekinian yang bisa menjadi salah satu alternatif pencegahan adalah analogi kekuatan social network dan viral marketing.

Kelebihan viral marketing dan social netwok adalah dengan mudah dengan menentukan target yang tepat mendorong presepsi yang baik dan mudah di pahami untuk semua individu, social network sangat menguntungkan untuk LSM atau pemerintah yang akan menjelaskan berbagai hal tentang AIDS dan tidak mengeluarkan banyak biaya. Dengan zaman yang semakin modern setiap orang lebih mudah mengakses hal-hal yang di butuhkan lewat handphone. Promosi dari mulut ke mulut dalam format elektronik. Dimana viral marketing adalah strategi marketing yang berkaitan dengan menciptakan pesan online yang original dan cukup menghibur yang mendorong masyarakat untuk menyampaikan pesan itu ke yang lainnya, menyebarkan pesan. Cepatnya penyebaran informasi melalui internet tidak bisa dibandingkan dengan sarana informasi lainnya. Pengaruh internet sangat unik hanya dalam hitungan detik. Begitu pun dengan social network penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat.

Viral marketing dan social network dalam mencegah atau mengubah pola hidup setiap individu dan masyarakat agar terbebas dari AIDS seperti dengan membuat artikel, memposting hal-hal yang harus di lakukan untuk mencegah AIDS di social media. Hal tersebut jauh lebih efektif pada saat ini dengan membuat setiap individu untuk sadar pentingnya mencegah AIDS. Karena viral marketing dan social network sangat dibutuhkan untuk mengedukasi masyarakat sesuai dengan cara yang kekinian. Itu semua menunjukan bahwa kehidupan yang grow in harmony akan memberikan impact positif sampai kepribadi setiap individu dalam segala aspect, pendidikan, social, ekonomi hingga kesehatan.

Memperingati Hari AIDS sedunia tidak hanya dengan memasang spanduk atau baliho di jalanan, membagikan mawar, maupun menyelenggarakan konser, tetapi dengan memberikan informasi dan pendidikan kepada masyarakat umum mengenai penyebab serta bahaya HIV/AIDS. Akan lebih baik lagi untuk mensosialisasikan kepada masyarakat yang kekurangan informasi dengan cara menerangkan yang lebih mudah untuk mereka mengerti dengan viral marketing dan social network.